Tentang Kami

Sebuah Perspektif…

[islamberkemajuan.id] Perkembangan teknologi informasi sangat pesat menghadirkan varian media online berbasis internet. Kehadiran media sosial telah menggeser media massa (konvensiona)l, baik cetak maupun online. Berbagai platform media telah mewarnai jejaring sosial seperti, Blogspot, Facebook, Tweeter, Youtube, LinkedIn, Instagram, Flicker, Pinterest, Whatsapp, Line, Vlog, dan lain-lain.

Dalam tilikan kami, karakteristik media massa berbasis online selama ini bersifat real-time dan interaktif, tetapi sangat terbatas dalam menerima partisipasi pengiriman berita dari masyarakat (citizen journalism). Produk-produk jurnalistik juga sangat terbatas, karena harus merujuk pada kaidah-kaidah jurnalistik konvensional. Karakteristik media massa berbasis online kurang kreatif dan inovatif dalam memproduksi varian-varian produk jurnalistik, tidak massif dalam proses distribusi produk jurnalistik, dan tidak memiliki jejaring yang luas. Kondisi semacam ini berbeda jauh dengan karakteristik media sosial.

Perubahan pola akses informasi telah mengubah pola pikir, perilaku, dan aktivitas sosial di era milenial. Karakteristik media sosial yang mempengaruhi corak masyarakat milenial meliputi: pertama, bersifat real-time—dalam hitungan detik, informasi bisa di-upload dan di-posting. Kedua, bersifat interaktif—langsung bisa dikomentari tanpa lewat proses editing. Ketiga, segala sesuatu yang di-posting di media sosial terdokumentasi dengan baik. Keempat, pengelola media sosial bertindak akumulatif; berperan sebagai jurnalis, editor, pemimpin redaksi, dan distributor sekaligus.

Suka atau tidak suka, media sosial kini telah menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat milenial. Kehadiran beragam aplikasi media sosial berbasis android telah melengkapi hiruk-pikuk masyarakat milenial ketika mengakses informasi secara instan dan mem-posting atau mem-forward berita-berita yang bertebaran di dunia maya. Masalah muncul ketika informasi tidak valid. Informasi dalam bentuk postingan status di Facebook, photo di Instagram, gambar meme di Pinterest dan Whatsapp yang tidak valid justru menyesatkan masyarakat.

Dalam konteks dakwah Islamiyah di dunia maya, kita sering sering menemukan konten-konten dakwah yang bersifat eksklusif, bernada intoleran, hingga anarkhis. Beberapa jejaring media sosial milik kelompok radikal, ektrem maupun teroris telah terbukti eksis dan mampu menggaet pendukung yang cukup banyak di Indonesia. Maka media sosial termasuk menjadi salah satu alat yang efektif tumbuh sumburnya paham keagamaan konservatif, radikal, intoleran, bahkan terorisme.

Respon Kami…

Prihatin atas dinamika pemberitaan di media sosial yang tidak sehat, maka dalam rangka menegakkan prinsip Islam rahmatan lil ‘alamin di dunia maya. Kami memandang perlu menghadirkan jurnalistik alternatif berdasarkan kode etik jurnalistik konvensional yang dipadukan dengan kaidah-kaidah jurnalistik Islami dalam bentuk media multi-platform. Dengan mengikuti perubahan pola pikir, karakter, dan aktivitas masyarakat milenial, maka transformasi ke media multi-platform harus diikuti dengan culture baru dalam dunia jurnalistik. Saat ini, model ‘jurnalisme multi-platform’ sangat penting untuk diimplementasikan dalam industri media massa berbasis online. Implementasi jurnalisme baru ini dalam media sosial mensyaratkan kreativitas yang tinggi untuk dapat memproduksi varian-varian produk jurnalistik untuk didistribusikan melalui berbagai macam platform media sosial.

 

Kami berusaha merespon cepat perubahan pola pikir, karakter, dan aktivitas masyarakat millennial dengan menghadirkan model jurnalistik yang terintegrasikan dengan sistem media sosial. Standar verifikasi jurnalistik multi-platform ini tetap mengacu pada kode etik jurnalistik yang dikombinasikan dengan kode etik lain sebagai instrumen pokok. Dalam proses produksi, skill teknologi informasi dan penguasaan sosiologi media sosial menjadi penting untuk menghasilkan varian produk-produk jurnalistik yang sesuai dengan minat konsumen (visitor, netizen).

 

Standar kode etik jurnalistik menjadi landasan operasional para insan jurnalisme multi-platform ketika memproduksi berita, artikel, poto, infografis, movement graphis, dan lain-lain. Kode etik jurnalistik Islami—merujuk pada fikih informasi—menjadi landasan operasional bagi para insan jurnalisme multi-platform dalam menentukan topik atau mengisi konten berdasarkan pada prinsip ‘Islam Moderat’ (Wasathiyah) yang merupakan refleksi atas nilai-nilai al-Qur’an (al-nash), perkembangan IPTEK, dan kearifan budaya lokal Indonesia.

 Visi dan Misi Kami…

Kami berharap islamberkemajuan.id dapat menjadi jurnalisme baru yang menjadi media alternatif bagi masyarakat milenial. Kami berkomitmen untuk mempromosikan wacana Islam Indonesia atas dasar nilai-nilai transendensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi yang memiliki karakteristik sebagai berikut:

1) mengutamakan ‘prinsip kemajuan’ (progresif), 2)  menyemaikan benih-benih kebenaran, kebaikan, kedamaian, keadilan, kemaslahatan, kemakmuran, dan keutamaan hidup dinamis bagi seluruh umat manusia, 3) menjunjung tinggi kemuliaan manusia (laki-laki maupun perempuan) tanpa diskriminasi, 4) memperjuangkan misi antiperang, antiterorisme, antikekerasan, antipenindasan, antiketerbelakangan, dan anti terhadap segala bentuk kemafsadatan di muka bumi, 5) Islam Moderat yang melahirkan keutamaan untuk memayungi kemajemukan suku bangsa, ras, golongan, dan kebudayaan umat manusia.