Nasionalisme Muhammadiyah: Ta’awun untuk Negeri


106
41 shares, 106 points

Oleh Azaki Khoirudin

Milad Muhammadiyah ke-106 memilih tema “Ta’awun untuk Negeri”. Tema ini mengandung komitmen nasionalisme Muhammadiyah. Kata ta’awun secara substansi terkandung makna gotong-royong, solidaritas, kebersamaan, dan kerukunan yang menjadi nilai-nilai utama dalam merajut keindonesiaan. Haedar Nashir menyatakan: “Muhammadiyah ingin menggelorakan semangat tolong menolong, kerjasama, dan membangun kebersamaan di tubuh umat dan bangsa agar Indonesia negeri tercinta ini menjadi negeri yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofur” (18/11/2018).

Adalah fakta sejarah, Muhammadiyah tidak hanya ikut merajut dan melahirkan bangsa Indonesia, melainkan melahirkan dan membangun Indonesia. Muhammadiyah terbukti mempelopori nasionalisme Indonesia dengan melahirkan kaum terdidik melalui pendidikan sebagai proses pencerdasan menuju kemerdekaan.

Para pendiri bangsa dan pahlawan nasional adalah tokoh-tokoh yang terlahir dari Rahim Muhammadiyah seperti KH Ahmad Dahlan, Nyai Walidah, Kiai Fachruddin, KH Mas Mansur, Buya Hamka, Ir Juanda, Ki Bagus Hadikusumo, Ir. Soekarno,  Fatmawati dan Mr. Kasman Singodimedjo.

Dalam perumusan dasar Negara peran Ki Bagus Hadikusumo sangat sentral dalam membedah kebuntuan perdebatan tetang dasar Negara yang serba dilematis. Ki Bagus menjadi tokoh kunci dalam perumusan dasar Negara Pancasila dengan menghapus tujuh kata “Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,…”. Beberapa kali Ki Bagus menolak anak kalimat tujuh kata itu. Dengan alasan yang sangat “nasionalistik”. Ki Bagus khawatir “kurang enak” dengan umat yang bukan Islam.

Meskipun Ki Bagus seorang tokoh yang dikenal puritan, sangat kuat memegang kemurnian akidah, tetapi untuk kepentingan bangsa Ki Bagus tidak egois dan berpikiran sempit untuk golongan umat Islam apalagi hanya untuk Muhammadiyah. Di sini Ki Bagus telah memberikan ketaladanan toleransi otentik dan nasionalisme sejati.

Darul Ahdi Wasy-Syahadah

Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasy-Syahadah pada Muktamar ke-47 di Makassar 2015 merupakan puncak penegasan nasionalisme Muhammadiyah. Pertama, Darul Ahdi (Negara Kesepakatan) merupakan penegasan posisi Pancasila sebagai konsensus nasional sebagaimana Ki Bagus Hadikusumo yang waktu itu sebagai Ketua Umum Muhammadiyah turut merumuskan dan bersepakat atas dasar Negara-Bangsa Indonesia.

Kedua, Darusy-Syahadah (Negara Persaksian) merupakan bentuk komitmen, pembuktian Muhammadiyah untuk mengisi bangsa ini dengan prestasi. Dengan kerja-kerja peradaban manifestasi syahadat kebudayaan di berbagai bidang kehidupan seperti ekonomi, pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, kebencanaan dan seterusnya untuk mewujudkan “Indonesia Berkemajuan”.

Sila pertama merupakan pantulan dari kecerdasan spiritual bangsa, yang menunjukkan bahwa Indonesia adalah negera religious. Lebih dari itu, sila Ketuhanan Yang Maha Esa adalah pernyataan yang berdimensi praksis. Karena itu Soekarno menyebutnya sebagai ”tauhid fungsional”. Maknanya bahwa empat sila berikutnya merupakan perwujudan dari sila pertama pada empat ranah kehidupan.

Sila pertama merupakan sebuah Darul Ahdi menjadi titik temu dari agama-agama yang ada di Indonesia. Darusy-Syahadah menuntut pembuktian dari Sila pertama dalam kerja-kerja nyata.

Pancasila hakikatnya adalah wujud  dari Tauhid Sosial dalam istilah M. Amin Rais yang termanifestasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Secara teologis filosofis menunjukkan hubungan konsekuensial antara hablun min Allah dengan hablun min al-nas. Ketaatan beriman sebagai hamba terhadap Allah (`abdullah) berdampak pada kesalehan produktif membangun peradaban di muka bumi sebagai khalifah.

Umat Islam sebagai mayoritas penduduk negeri ini tidak perlu ragu bahwa Pancasila merupakan bagian dari sistem ideologi yang memiliki dasar-dasar teologis dan filosofis Islam. Meskipun Indonesia bukan “Negara Islam”, tetapi Indonesia merupakan “Negara Islami”. Karena telah mengalami proses “Islamikasi” (bukan Islamisasi) yang cukup panjang dalam sejarah nusantara.

Dalam lima sila tidak ada yang bertentangan dengan maqoshid syariah (tujuan syariah). Melainkan sesuai, senada dan sebagun dengan tujuan syariat Islam yaitu menjaga agama (hifz al-din), menjaga jiwa (hifz al-nafs), menjaga akal (hifz al-`aql), menjaga keturunan (hifz al-nasl), menjaga harta (hifz al-mal), dan menjaga lingkungan (hifz al-bi’ah).

Nasionalisme Moderat

Beragam slogan-slogan verbal dan heroik tentang Nasionalisme, mulai dari “NKRI Bersyariah”, “Bela Negara”, “Bela Pancasila”, “Saya Indonesia”, “Saya Pancasila”, hingga “NKRI Harga Mati”. Muhammadiyah memilih diksi yang tidak popular di kalangan masyarakat yaitu Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi Wasy-Syahadah (DAS).

Darul Ahdi merupakan pernyataan atau syi’ar, sedangkan Darusy-Syahadah menuntut pembuktian dengan kerja. Muhammadiyah terbiasa dengan tradisi berpikir (intelektual), sekaligus budaya kerja.

Kyai Dahlan pendiri Muhammadiyah telah meletakkan otoritas keulamaannya dengan amaliyah nyata, bukan karena tulisan maupun retorikanya.  Kyai dahlan memahami ajaran Agama secara rasional, sehingga berfungsi sebagai pemecah problem masyarakat. Semua itu dilandasi etika welas asih tanpa memandang golongan, agama, suku dan ras.

Teologi amal shaleh atau teologi kerja karakter unik dari nasionalisme Muhammadiyah. Maka wajar jika Muhammadiyah tidak teriak-teriak lantang paling Nasionalisme. Tetapi menunjukkan dengan kerja-kerja kongkrit memajukan dan mencerdaskan bangsa ini.

Termasuk di saat Negeri ini sedang dilanda musibah, Muhammadiyah dengan  slogan “sedikit bicara banyak bekerja” tanpa diminta secara otomatis bergerak ke penjuru negeri. Di saat negeri ini dilanda banyak bencana alam, seperti akhir-akhir ini dari Gempa Lombok, Tsunami Palu, Muhammadiyah tidak sibuk melakukan tafsir kebencanaan. Biasanya musibah selalu dikaitkan dengan kemaksiatan. Muhammadiyah  tidak melakukan politisasi bencana dengan menyalahkan pemerintah.

Sebaliknya, Muhammadiyah melakukan kerja-kerja nyata, kerja cepat, dan kerja tanggap melalui LPB (Lembaga Penanggulangan Bencana). Muhammadiyah  lebih melakukan kerja-kerja kongkrit daripada beretorika dan berwacana.

Nasionalisme Muhammadiyah adalah “Nasionalisme Moderat”. Konsisten antara “kata dan perbuatan”,  tidak retoris, apalagi komunal. Sebaliknya nasionalisme Muhammadiyah adalah nasionalisme berkemajuan yang menembus primordialisme. Muhammadiyah bekerja murni untuk bangsa dan kemanusiaan, bukan untuk Muhammadiyah sendiri, melainkan untuk semua golongan (rahmatan lil alamin).

Nasionalisme Muhammadiyah menolak segala bentuk ekstremitas. Nasionalisme radikal disebut oleh Haedar Nashir sebagai ideologi ultra-nasionalisme. Nasionalisme yang ultra atau ekstrem, menganggap kelompoknya sendiri yang paling nasionalis, sedangkan kelompok lain tidak, merasa paling memiliki Indonesia, sehingga sangat ingin serba berkuasa.

Berbeda dengan “Nasionalisme Muhammadiyah”, mencintai Indonesia sewajarnya, tidak merasa paling nasionalis, juga tidak retoris dengan teriak-teriak paling Nasionalis. Sebaliknya Muhammadiyah konsisten melakukan kerja-kerja untuk membangun negeri.

Sebagaimana terekspresi dalam tema Milad ke-106 Muhammadiyah kali ini: “Ta’awun untuk Negeri”. Semangat ta’awun untuk kebersamaan negeri, harus diperkuat dengan sikap  saling mengenal (al-ta’aruf), saling memahami (al-tafahum), saling menghormati dan mengasihi (al-tarahum), membangun kerjasama dan solidaritas kemanusiaan (al-tadhamun) dan hidup berdampingan secara damai dan harmoni (al-ta’ayus al-silmi).


What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *