Merawat Nalar Ibu Muda Milenial


88
33 shares, 88 points
Sumber: saliha.id

Oleh : Nurlia Dian Paramita*

 

Ibu Muda adalah bagian dari produktifitas kaum milenial. Mereka adalah segmen penting bagi pertumbuhan dan perkembangan generasi bangsa berpuluh-puluh tahun mendatang. Berdasarkan kajian dari BKKBN, usia 20-25 tahun adalah usia ideal perempuan melangsungkan pernikahan. Namun terdapat fakta lain bahwa bahwa perkawinan anak di Indonesia masih relatif tinggi, merujuk data BPS 2016, prevalensi perkawinan anak mencapai 23 persen.

Satu dari lima perempuan berusia 20-24 tahun telah menikah pertama kali pada usia di bawah 18 tahun. Dengan demikian apabila anak yang telah beralih remaja yang kini sudah menjadi ibu muda tidak menyiapkan diri mendidik anak generasi berikutnya maka dapat diprediksi bagaimana sia-sia-nya ledakan bonus demografi di 2045. Pada tahun tersebut para pemuda yang akan memegang kepemimpinan nasional dengan seluruh perangkatnya, sebagaimana penyampaian Presiden Jokowi dalam laporan 4 tahun kepemimpinannya “membangun manusia Indonesia adalah investasi kita untuk masa depan, untuk melapangkan jalan menuju Indonesia maju”.

Harapan untuk menciptakan generasi unggul intelektual, gesit dalam konektivitas serta menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa ini adalah sebuah keniscayaan.

 

Stereotip Ibu Muda Milenial

Survei Alvara Institute pada bulan Januari 2018 menerangkan bahwa generasi milenial adalah individu yang lahir di awal dekade 1980-an hingga awal 2000-an. Milenial diartikan lebih ekpresif, suka selfie (narsis), open-minded, suka playdate, belanja online dan kreatif (Thouars, 2017). Bahkan dalam survey Indonesian Digital Mums 2017 yang dilakukan oleh the Asian Parents, media parenting digital, sebanyak 43 persen responden dari 1000 ibu milenial di Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan sudah melek internet dan cenderung memakai media sosial untuk berinteraksi. Sebesar 99 persen dari mereka setidaknya memiliki satu akun media sosial.

Merujuk hal tersebut, Jurgen Habermas (1992) mendefinisikan ruang publik sebagai ruang mandiri yang terpisah dari negara (state) dan pasar (market), memproduksi kerumunan opini yang mempengaruhi sekelompok orang untuk menciptakan “dunia baru” dan sistem. Dalam hal ini, Penguasaan terhadap kecenderungan tren yang diproduksi dalam sebuah ruang perkumpulan akan menciptakan gaya/mode baru yang cenderung mudah mempengaruhi sekumpulan orang disekitarnya.

Perempuan dalam hal ini para ibu muda yang gadgeters tentu akan dengan mudah mengikuti tren yang sedang berlangsung. Kecenderungan rutin bermedsos ini selain menimbulkan pola konsumtif juga mengakibatkan minimnya budaya literasi pada tulisan. Padahal generasi muda dalam hal ini anak-anak mereka sudah harus diajarkan kegemaran berliterasi sebagai bekal pemahaman sejarah atas kejadian-kejadian yang terjadi di negeri ini. Gempa dan Tsunami yang terjadi di Palu, Donggala, Sigi tempo hari juga disinyalir banyak jatuh korban jiwa diakibatkan minimnya literasi yang terekam oleh penduduk setempat, bahkan cerita mengenai hikayat tanah runtuh lebih dimaknai sebagai dongeng belaka tanpa disadari hal itu berdasar atas kejadian ribuan tahun lalu (Arif, 2012).

Seiring dengan derasnya arus informasi yang dapat terakses dari media sosial, menjadi ibu muda milenial mestinya mampu berpikir dengan perspektif critical thinking terhadap ketimpangan yang terjadi dalam akses kesetaraan, memiliki cara pandang tidak binner (hitam-putih), berjiwa welas asih, serta tidak terprovokasi informasi palsu (hoax).

 

Tantangan Kompleksitas Kekinian

Dalam mewaspadai kerentanan iklim, geografis alam dan kondisi sosial budaya politik ibu muda milenial harus memahami kondisi riil yang sedang terjadi. Pertama, kerentanan bencana, semenjak gempa dan tsunami aceh tahun 2004, sudah semestinya semua pihak mewaspadai kondisi keberulangan terjadinya gempa dan tsunami yang pasti akan terjadi di wilayah lain. Ibu dan anak-anak menjadi pihak yang paling rentan dalam terjadinya bencana. Kedua, penuhi kebutuhan nutrisi anak.

Rilis terbaru PBB bulan September tahun 2018 mengenai “ketahanan pangan dan gizi di dunia” Indonesia merupakan satu-satunya negara yang memiliki prevalensi tinggi untuk tiga indikator malanutrisi yaitu anak pendek (child stunting), kurus (child wasting), dan kegemukan (child overweight) dengan kondisi tersebut maka sangat mungkin kedepan akan muncul penyakit tidak menular semakin banyak membebani negara (diabetes, ginjal, stroke, dll). Presiden Joko Widodo sudah mencanangkan 1000 HPK menjadi bagian dari capaian program Nawacita, guna melindungi anak-anak dari bahaya tumbuh kerdil (stunting), namun faktanya sosialisasi terkait hal ini masih belum merata di semua wilayah.

Ketiga, komoditas politik, partai mulai melirik kaum milenial sebagai sumber suara 2019. Dalam survey CSIS 2017 terhadap sejumlah realitas yang dirasakan milenial, 21, 5% responden merasa kesulitan dengan tingginya harga kebutuhan pokok, tentu ini merupakan problematika ibu-ibu muda yang riil terjadi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tim Kampanye Nasional (TKN) Jkw-Ma’ruf dan Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi menjanjikan serangkaian program yang memenuhi kebutuhan riil masyarakat. Hal ini mestinya menjadi titik kritis ibu muda untuk menagih janji. Melalui komunitas pop hijabers misalnya meski sehari-hari aktif dengan modest style namun komunitas ini juga diharapkan mampu kritis merespon janji politis para kandidat.

 

Turut Peduli pada Kebutuhan Bangsa

Diperlukan dukungan stakeholders, pemerintah, organisasi kemasyarakatan dan tokoh masyarakat untuk bersama-sama merawat nalar para ibu muda milenial. Mereka tentu menjadi sumber penikmat berita media sosial, televisi melalui ragam sinetron berseri dan juga trendsetter konsumtif berbagai ragam produk rumahtangga hingga gaya busana. Ibu muda milenial kini harus berbenah untuk turut peduli dengan kebutuhan bangsa ini. kegiatan posyandu bisa diisi dengan penyuluhan yang tidak hanya memastikan pertumbuhan bayi namun juga Pemberian Makanan Tambahan (PMT) yang bergizi. Perlu inisiasi pertemuan Ibu PKK yang tidak sekedar arisan namun juga berisi tutorial menghadapi bencana sekaligus praktik aktivitas apa yang harus dilakukan.

Kemudian memahami anggaran yang digagas oleh pemerintah daerah sekaligus mengkritisi bilamana ada kebutuhan yang tidak teralokasikan dengan baik, seperti penyediaan fasilitas ibu melahirkan di unit puskesmas yang dilengkapi dengan sarana cadangan kantong darah, ini mengantisipasi jika seorang Ibu mengalami anemia dan juga pendarahan pasca melahirkan.

Selanjutnya menjadi garda terdepan yang mampu menagih janji atas kinerja pemerintah, mereka mengontrol pembagian beras miskin, pembangunan infrastruktur dan ikut aktif bersuara dalam forum pertemuan musyawarah perencanaan pembangunan (musrenbang) di semua tingkatan pemerintahan. Dengan demikian ibu muda milenial dapat berkontribusi secara substantif, konkrit dan berjibaku dalam upaya mensejahterakan bangsa, tidak hanya larut dalam kebutuhan hedonism yang melenakan dan menyurutkan arah pembangunan nasional.

 

*) Ketua Bidang Organisasi PP Nasyiatul Aisyiah periode 2016-2020, Peneliti Senior Jaringan Pendidikan Pemilih Untuk Rakyat (JPPR)


What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *