Menjadi Peace Milenialis di Era Post Truth


100
1 share, 100 points
Ilustrasi | Sumber : Vuelio

Oleh : Ahmad Basyiruddin

 

Dulu di zaman imperealisme, kita dihadapkan pada masa dimana kita harus berperang melawan subjek nyata. Merebutkan kebebasan individu ataupun negara dengan mengangkat bambu runcing melawan tank tank penjajah. Perlawanan ini nyata, bisa dilihat, dan bisa di raba. Sehingga wajar jika pertumpahan darah secara langsung bisa di rasakan.

Sekarang imperealisme sudah berlalu pada masanya, jadi romantisme masa lalu akan perlawanan nyata. Namun produk dari imperialisme masih ada, yaitu komputer. Komputer saat itu di ciptakan dengan tujuan awal memperkuat pertahanan menggunakan pengetahuan menghasilkan teknologi di perang dunia ke II. Komputer saat ini sudah berubah menjadi sebuah kebutuhan daily activity. Berevolusi dengan adanya internet yang saling berkoneksi antar sesama. Globalisasi terwujud. Manusia tidak bisa melawan ataupun melarang, menjadi tatanan baru dunia.

Berkembang pesatnya teknologi, manusiapun ikut bergerak. Hampir setiap orang memiliki gadget di genggaman.Data dari We Are Social 2017 Digital In Indonesia, total populasi saat itu 259,1 Juta penduduk namun Mobile Connection mencapai 326,3 Juta. Artinya bahwa ada beberapa orang di Indonesia yang memiliki lebih dari 1 Gadget di tanganya.

Globalisasi sudah berevolusi lagi. Dimana untuk dapat berkomunikasi dengan sesama dapat dilakukan dimanapun tanpa memandang jarak. Dengan adanya Gadget dan Internet munculah berbagai Social Network dan Chat App baru seperti jamur di musim hujan. Dari data yang sama, ada 15% orang indonesia menggunakan Facebook sebagai Social Network, dan 14 % menggunnakan Whatsapp sebagai messenger / Chat App. 15% pengguna facebook ini artinya bahwa, ada 79 Juta penduduk indonesia yang aktif ber social network.

Dari sumber yang sama pula, 44% didominasi oleh pemuda usia 20-29 Tahun. Artinya bahwa hampir 50% milinealis indonesia menggunakan social network dan chat app sebagai daily activity nya. Ada anekhdot, Orang dulu ada istilah kebutuhan manusia ada 3, yaitu sandang (pakaian), pangan (konsumsi), dan papan (tempat tinggal). Sedangkan sekarang bertambah menjadi 4,  yaitu sandang (pakaian), pangan (konsumsi), papan (tempat tinggal), dan paketan (kuota internet).

Saat ini, siapapun berhak untuk mengutarakan pikirannya di jejaring social media yang mereka miliki. Orang yang punya niat baik dan buruk memiliki hak yang sama di era ini. Buzzer yang hanya bermodalkan fake akun pun sekarang bisa jadi pekerjaan yang menggiurkan. apapun dilakukan demi atasan dan pemodal. Apalagi Indonesia tahun tahun ini adalah tahun Politik, dimana 2019 nanti indonesia akan mengadakan hajatan demokrasi besar. Istilah Cebong dan Kampret pun sekarang sudah bukan hal yang aneh di dunia social media. Bisa jadi kita masuk di salah satunya tanpa tahu substansi aslinya. bisa jadi kita di permainkan oleh propaganda media. kita tidak tahu, karena globalisasi dan social media bisa changing mindset – merubah pola pikir seseorang. disinilah kita beerada di era Post Truth. siapapun berhak bersuara, tinggal dominasi suara mana yang bisa jadi tranding topic di dunia maya. Hoax mana yang bisa mengalahkan Hoax selain dia.

 

Menjadi Peace Milenialis di Era Post Truth

Pihak yang paling banyak mengkonsumsi ini adalah milinealis. merekalah yang tiap menit menggunakan gatget untuk berinteraksi dan berkreasi. Milenialis mau memilih ikut ataupun punya kreasi sendiri. Sangat mungkin sebenarnya milenialis bisa menghegemoni social media dengan gaya mereka sendiri, gaya perdamaian milenial – Style Peace Milenial. Menyebarkan kreatifitas pesan damai tanpa hoax dan permusuhan. Gerakan mereka nyata dan sangat mungkin mengalahkan para pemodal, karena milenialis mempunyai karakter kolaboratif tak pragmatis. Mereka bisa saja mengshare konten damai kreatifitas mereka tanpa ada tekanan dari pihak luar.

Ada dua hal sebenarnya yang harus di miliki oleh seorang milenialis untuk menjadi peace milenialis. yang pertama adalah kecerdasan. kecerdasan ini tidak hanya berada pada titik akademis tapi juga masuk ke spiritual dan sosial. kecerdasan ini lah nanti yang akan mendorong seorang milenial untuk merubah keadaan sekitar. Pramoedya Ananta Toer mengatakan, “Harus Adil Sejak Dalam Pikiran”. Kecerdasan ini lah yang bisa meyebarkan pesan damai ke belahan dunia. Mereka akan Adil dan berfikir cerdas jika ada konten yang tersebar di dunia maya.

Yang kedua adalah Karakter. Karakter inilah nanti yang jadi acuan moral dalam bergerak. Karakter terbentuk atas lingkungan sekitar dan pengetahuan. Karakter bisa juga berasal dari agama, budaya, maupun pengetahuan yang dia miliki oleh Milenialis. Milenial harus memiliki Karakter yang bisa menunjukkan bahwa dia ada tanpa terpengaruh oleh pihak luar. Karakter yang berbudaya, yang menekankan perdamaian tanpa harus kekerasan. Kecerdasan dan Karakter inilah yang menjadikan seorang Milenialis menjadi Peace Milenial, yang bisa mewarnai social media dan dunia dengan perdamaian.

 

Referensi

  • Kemp, Simon (2016) “Digital In 2016” – We Are Social’s Compendium of Global Digital.

[1] Esai “A Call for Young Leaders of Peace” – Menginisiasi Perjumpaan, Menarasikan Perdamaian. Malang 3-4 Oktober 2018. Pusat Studi Agama dan Multikulturalisme (PUSAM ) Universitas Muhammadiyah Malang, Equal Acces Internasional, The Asian Muslim Action Netwrok (AMAN) Indonesia.


What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *