Membela Tauhid: Keteladanan Ki Bagus Hadikusumo


106
247 shares, 106 points

Oleh : Azaki Khoirudin

 

Ki Bagus Hadikusumo adalah santri Jawa yang kepribadiannya melebur dengan adat istiadat tanpa meninggalkan “tali akidah” dalam hatinya. Nama kecilnya adalah R. Hidayat. Lahir dari keluarga santri di kampung Kauman, Yogyakarta tanggal 24 November 1890 M. Ki Bagus adalah putra Raden Kaji Lurah Hasyim, seorang abdi dalem, putihan (pejabat) agama Islam di Kraton Yogyakarta. Ki Bagus putra ketiga dari lima bersaudara.

Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah dasar, ia belajar di Pesantren Wonokromo, Bantul, Yogyakarta. Di sana ia banyak menekuni kitab-kitab fikih dan tasawuf. Di Muhammadiyah, Ki Bagus pernah menjadi Ketua Majelis Tabligh, Ketua Majelis Tarjih, Anggota Komisi Majelis Pimpinan dan Pengajaran Muhammadiyah (MPM) PP Muhammadiyah. Puncaknya sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 1942-1953 (selama 11 tahun). (Faisal Ismail, 2018: 134).

Sebagai ulama, Ki bagus termasuk produktif menulis. Salah satu buku penting karyanya ialah Islam sebagai Dasar Negara dan Achlaq Pemimpin. Karya-karya lainnya antara laian: Risalah Katresnan Djati (1935); Poestaka Hadi (1936); Poestaka Islam (1940); Poestaka Ichsan (1941); dan Poetaka Iman (1954). Dari karya-karyanya tampak kuat komitmennya terhadap tauhid, akhlak dan pengamalan syariat Islam.

 

Menolak Seikirei

Keteguhan Ki Bagus dalam menjaga akidah juga terlihat sikapnya kepada seorang kolonel tentara Jepang. Pada saat itu, militer Jepang mengharuskan seluruh sekolah yang berada di bawah kekuasaannya untuk melaksanakan upacara penghormatan kepada kaisar Hirohito (dikenal pula sebagai “Tenno Heika”). Upacara itu dikenal dengan istilah Seikirei (membungkukkan badan menghadap matahari terbit). Menurut Ki Bagus penghormatan Seikirei sama dengan ritual sujud dalam sholat. Bisa mendekatkan diri pada perbuatan syirik. (Gunawan Budiyanto, 2018: 94).

Ki Bagus mengumpulkan sejumlah pengurus dan ulama Muhammadiyah, kemudian memutuskan melarang pelaksanaan Seikirei di sekolah-sekolah Muhamadiyah. Sikap muhammadiyah ini segera sampai pada pihak Jepang. Lalu dipanggillah Ki Bagus untuk menghadap seorang pejabat militer yang berkantor di sebelah timur kantor pos besar.

Sebelum Ki Bagus berangkat ia sempatkan sholat istikharah dan berdoa memohon kekuatan iman. Di kantor militer Jepang, Ki Bagus diterima oleh seorang opsir militer bernama Kolonel Tsuda yang menerima kedatangan Ki Bagus dengan sebelah kakinya dinaikkan ke atas meja. Maka kecutlah hati Ki Bagus dan bibir yang tidak berhenti berdoa. H. Djarnawi Hadikusumo (putera ke lima Ki Bagus Hadikusumo) dalam Budiyanto (2018: 95) menceritakan tentang dialog Ki Bagus tersebut. Dialog terjadi dengan bentakan opsir tersebut :

 

“Tuan Ki Bagus, saya minta tuan memerintahkan kepada semua orang Islam dan Muhammadiyah serta murid-murid semua untuk melaksanakan upacara Seikirei”

Ki Bagus menjawab, “Tidak mungkin tuan, agama Islam melarang itu”. Kolonel Tsuda membentak “Itu saya tidak tau, pendeknya tuan harus memerintahkan”

Ki Bagus menjawab lagi, “Kalau tuan tidak tahu maka saya beri tahu bahwa itu dilarang oleh agama saya. Orang Islam tidak boleh membungkuk menghormat seperti Seikirei itu kepada sesama manusia”

Tsuda membentak lagi, “Tetapi pemerintah Dai Nippon memerintahkan semua bangsa Indonesia harus melakukan Seikirei itu”

Ki Bagus menjawab “Kalau begitu saya pikir tuan perintahkan saja”

Kolonel Tsuda menjawab, “Tidak, tuan Ki Bagus yang memberi perintah, tuan pemimpin Islam, orang Islam akan menurut”

Ki Bagus menjawab lagi, “Tidak bisa tuan, agama Islam melarang, bukan saya yang melarang, saya tidak bisa melakukan dan memerintahkan itu”

Kolonel Tsuda marah besar dan menggebrak meja, Ki Bagus terkejut kecut hatinya sambil terus berdoa sampai tenang, kemudian menjawab, “Tuan penganut agama seperti saya, sekalipun berlainan tentu tuan juga tidak mau melanggar ajaran agama tuan, seperti juga kami orang Islam, tidak mau melanggar ajaran agama kami”

 

Dialog akhirnya berhenti dan diakhiri, mereka pun minum teh. Ki Bagus pulang dan melakukan sujud syukur. Pemerintah Jepang akhirnya tidak berhasil memaksanakan kehendaknya agar umat Islam melaksanakan upacara Seikirei.

Peristiwa penolakan Ki Bagus untuk melakukan Seikirei memberikan kesadaran bahwa orang Islam, Muhammadiyah khususnya berpegang kuat pada tali akidah dan dengan segala cara akan mempertahankan keyakinan tersebut.

 

Meletakkan Dasar Negara

Sampai hari ini perdebatan tentang bentuk Negara dan pemberlakukan syariat Islam di kalangan umat Islam masih berlangsung. Salah satu yang menjadi debat kusir adalah tentang penghapusan tujuh kata pada piagam Jakarta, dalam rumusan UUD 1945. Disini laporan Ki Bagus Hadikusumo patut dicatat oleh para generasi milenial.

Dalam Piagam Jakarta tertulis, “…maka disusunlah kemerdekaan Indonesia itu dalam suatu hukum dasar Negara Indonesia, yang terbentuk dalam suatu susunan Negara Republik Indonesia yang berkedaulatan Rakyat, dengan berdasar kepada: Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya,…” Dalam Pembukaan UUD 1945, bukan hanya tujuh kata saja yang dihapus, melankan juga “hukum dasar” diubah menjadi “Undang-Undang Dasar” (Mulkhan, 2018: 164-165).

Beberapa kali Ki Bagus menolak anak kalimat tujuh kata itu. Alasan yang dikemukakan sangat nasionalistik. Ki Bagus khawatir “kurang enak” dengan umat yang bukan Islam. Ki Bagus menyatakan:

“Kalau dipaksakan saya harap jangan sampai ada yang menyesal. Tetapi saya menyatakan, bahwa saya tidak mufakat dengan adanya artikel 28 BAB 10 tentang bab agama. dan saya tidak mufakat dengan preambule yang berbunyi “berdasar ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Kalau sidang mufakat saya terima. Saya mengatakan itu dengan terus terang. Tetapi saya mengatakan bahwa saya tidak mufakat, kalau saya tidak boleh bicara”(Risalah Sidang BPUPKI, 1998 : 360-363)

 

“…Jadi, saya menyetujui usul tuan Abdul Kahar Moezakkir tadi. Kalau ideologi Islam tidak diterima, tidak diterima! Jadi, nyata Negara ini tidak berdiri di atas agama Islam, Negara akan netral. Itu terang-terangan saja, jangan diambil sedikit kompromis seperti Tuan Soekarno katakan. Untuk keadilan dan kewajiban tidak ada kompromis, tidak ada. Terang-terangan saja, sebab kalau memang ada keberatan, sebab kalau memang ada keberatan akan menerima ideologi umat Islam, siapa yang mufakat yang berdasar Islam, minta supaya menjadi satu Negara Islam. Kalau tidak, harus netral terhadap agama” (Risalah Sidang BPUPKI, 1998 : 364-376).

 

Berdasarkan kutipan di atas terlihat jelas betapa singnifikan peran Ki Bagus Hadikusumo dalam membedah kebuntuan Sidang BPUPKI saat menghadapi perdebatan tetang dasar dan bentuk negara yang penuh polemis-dilematik.

Kepribadian religius Ki Bagus dikenal kuat memegang akidah, telah melahirkan sikap bijaksana, mengayomi, tidak egois, dan welas asih, sehingga mampu melahirkan pemikiran inklusif yang mampu diterima oleh semua golongan. Ki Bagus mampu meletakkan Tauhid yang mempersatukan golongan sebagai dasar negara.

Dari Ki Bagus kita semua dapat meneladani, bahwa kuatnya akidah dan murninya tauhid, melahirkan pemikiran yang bijak, sikap arif, dan budi pekerti yang luhur, sehingga melahirkan maslahat bagi umat dan semesta alam.


What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
5
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *