M. Amin Abdullah: Ikons Ilmu Pengetahuan


97
5 shares, 97 points
Sumber: bukalapak.com

Hasnan Bachtiar

Resensi ini akan mengulas sebuah buku yang berjudul Integrasi-Interkoneksi Keilmuan Biografi Intelektual M. Amin Abdullah [1953-…]: Person, Knowledge and Institution Jilid I & II karya Waryani Fajar Riyanto yang diterbitkan oleh Suka Press (2013). Buku yang cukup tebal karena terdiri dari dua jilid, sebanyak lvi + 2076 hlm. (Jilid I)  dan lvi + 2076 hlm. (Jilid II)

Inilah tiba saatnya, Indonesia harus dipertimbangkan di pentas pemikiran dunia, khususnya mengenai disiplin pemikiran Islam dan filsafat. Setelah Harun Nasution, Nurcholish Madjid, Kuntowijoyo dan Abdurrahman Wahid, tiada nama lain yang setaraf dengan mereka kecuali Amin Abdullah. Jelas, sederet nama tersebut, termasuk yang terakhir, memiliki ciri khas yang berbeda untuk menggambarkan Islam Indonesia dan Asia Tenggara.

Dalam pengembaraan ilmu pengetahuannya, Amin mengelaborasi warisan peradaban dunia (cosmopolitanism), yakni hadlârat al-nash (religion), hadlârat falsafah (philosophy) dan hadlârat al-ilm (science). Hingga pada akhirnya, lahirlah suatu gagasan yang dahsyat bernama Teori Integrasi-Interkoneksi Sistemik (I-KONS), sebagai “nama sebuah pengetahuan”. Dasar pijak ide ini, dimasak hingga matang dengan bumbu-bumbu ulûmuddin, religious studies, Islamic studies dan philosophy of science oleh tangan dingin Guru Besar Filsafat dari UIN Sunan Kalijaga tersebut.

Lantas kemudian, bagaimana menjelaskan Teori I-KONS di atas? Secara simplistis, dalam memahami agama Islam yang luhur, terlebih Islam sebagai ilmu, tidak cukup hanya dengan mengandalkan ilmu-ilmu keislaman seperti al-Quran wa ulumuhu dan al-Sunnah wa ulumuha, serta ilmu-ilmu fiqh, ushûl al-fiqh, tafsir, lughah, kalam, falsafah, tasawwuf, tarikh dan seterusnya.

Oleh karena itu, perlu pula memanfaatkan ilmu-ilmu seni, sosial dan humaniora seperti sosiologi, antropologi, arkeologi, psikologi, ekonomi, politik, hukum, sejarah, filologi, hermeneutika, etika, fenomenologi, filsafat dan sebagainya, serta ilmu-ilmu alam dan terapan seperti matematika, fisika, astronomi, astrofisika, kimia, biologi, biokimia dan seterusnya.

Untuk mendapatkan hasil elaborasi yang utuh, arus khazanah pengetahuan dari Timur dan Barat ini pun perlu dikaitkan dengan persoalan-persoalan (keilmuan) kekinian seperti hukum internasional, pluralisme agama, ekonomi global, teknologi informasi, hak asasi manusia, politik masyarakat sipil, isu-isu keadilan dan kesetaraan gender, isu-isu lingkungan, dan seterusnya. Lalu ditambah pula dengan perkembangan kesalingterkaitan antara hard sciences (sains dan teknologi) dan soft sciences (humanities).

Seluruh disiplin ilmu tersebut bersifat integratif atau menyeluruh. Akan tetapi integrasi ilmu-ilmu ini, bukan untuk menjadikannya manunggal (unified). Di antara ilmu yang satu dengan yang lain, tetap memiliki ciri khasnya masing-masing yang unik dan spesial, walau tetap terhubung dengan seluruh jaringan disiplin lainnya “sepanjang diperlukan” (semipermeable).

Dengan demikian, istilah ide integrasi harus didudukkan maknanya agar lebih sempurna sebagai integrasi-interkoneksi keilmuan, yang membawa suatu konsekuensi pada hubungan inter-subyektivitas antroposentris (karena setiap pengetahuan misalnya, adalah produk falsifikasi manusia/ilmuan).

Kendati demikian, perlu dicatat bahwa, itu semua tidak cukup untuk menjelaskan segala fakta obyektif “keseimbangan” semesta yang melampaui intersubyektivitas manusiawi! Keseimbangan jagad raya di sini, harus dipahami bukan sebagai filsafat “jam dinding” sebagaimana sinisme yang diajukan oleh para filsuf alam/fisikawan kuno, sehingga Tuhan sedang berleha-leha setelah menciptakan langit dan bumi, serta seisinya.

Dengan kata lain, keseimbangan kosmik tersebut bukanlah mesin mekanika, akan tetapi “sistem” yang bersifat inter-obyektif. Misteri manusia dengan segala subyektivitasnya (inter-subyektivitas), tidak dapat dipungkiri, juga memiliki dimensi obyektif (sistem) yang serupa, tatkala berinteraksi dengan sesamanya, dengan alam sekitar dan tentu saja dengan Tuhannya. Oleh karena itu, gagasan integrasi-interkoneksi, bersifat sistemik, yang sifat-sifatnya mengalami pergeseran dari intersubyektivistik menuju interobyektivistik.

Dengan adanya I-KONS ini, sesungguhnya pemahaman yang lebih komprehensif terhadap agama Islam dapat diraih. Kita patut berterimakasih kepada Profesor Amin Abdullah yang telah menggagas ilmu pengetahuan yang sangat menarik, yang mampu menjawab problematika umat manusia di era kekinian, di tengah arus globalisasi, kosmopolitanisme dan tren kewarganegaraan global (the world citizenship). Semua ini, tidak lain hanya untuk menjunjung harkat dan martabat manusia, memelihara alam dan sebagai wujud syukur kepada Allah Swt.

Dalam konteks ini, Amin Abdullah sebagai intelektual jelas telah melampaui gagasan inti sederet pemikir Islam di dunia internasional seperti Muhammad Iqbal, Fazlur Rahman, Seyyed Hossein Nasr, Syed Naquib Al-Attas, Nasr Hamid Abu Zayd, Hassan Hanafi, Muhammad Abed al-Jabiri, Mohammed Arkoun, Abdullah Ahmed An-Naim, Khaled Abou El-Fadl, Tariq Ramadan, Abdullah Saeed, Jasser Auda dan seterusnya.

Sayangnya, I-KONS ini belum dibaca, diteliti dan didiskusikan oleh publik internasional. Ada dua persoalan yang mendasar dalam hal ini: Pertama, karya-karya Amin Abdullah masih menjadi fragmen-fragmen gagasan yang bertebaran di ruang akademik Indonesia; Kedua, sekiranya fragmen-fragmen tersebut diikat dalam sebuah arsip pengetahuan (episteme), maka harus diterjemahkan setidaknya ke dalam bahasa-bahasa internasional (seperti Inggris dan Arab) dan bahasa-bahasa kesarjanaan lainnya (seperti Jerman, Perancis, Spanyol, Latin dan Belanda).

Sungguh para pemburu pengetahuan mutakhir sangat beruntung, tatkala mimbar akademik Nusantara, dikejutkan dengan hadirnya buku “Integrasi-Interkoneksi Keilmuan, Biografi Intelektual M. Amin Abdullah [1953-…]: Person, Knowledge and Institution Jilid I & II” (2013). Tidak main-main, buah karya Doktor Waryani Fajar Riyanto ini setebal 4000 halaman, yang terdiri dari dua jilid, masing-masing setebal 2000-an halaman.

Buku ini adalah arsip I-KONS yang lengkap, bendel pemikiran Amin Abdullah yang utuh dan rujukan yang reputable dan readable bagi pecinta pemikiran Islam dan filsafat, serta seluruh sarjana yang berkecimpung di dunia studi Islam, studi agama dan lain-lain. Buku ini disajikan secara sangat sistematis, jernih dan ditulis dengan gaya bahasa yang renyah. Yang terpenting adalah, buku ini dapat dianggap sebagai representasi pemikiran Amin Abdullah, karena dalam proses pembuatannya, selalu mendapatkan konfirmasi oleh Sang Filsuf secara langsung, bahkan dalam setiap babnya.

Namun, setelah lahirnya buku tersebut, hal yang sangat mendesak untuk diupayakan adalah menerjemahkannya dalam bahasa-bahasa asing sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Semoga dengan lahirnya buku ini, pemikiran Islam Indonesia, Nusantara, dunia Melayu dan Asia Tenggara, menjadi bagian dari khazanah pengetahuan dunia. Terimakasih atas ikhtiar intelektual Waryani Fajar Riyanto yang sangat berharga.[]


What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Qurrota A'yun

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *