KOKAM sebagai Subkultur: Catatan untuk Ahmad Najib Burhani


116
147 shares, 116 points
Sumber: republika.co.id
Oleh: Iwan Setiawan

Muhammadiyah sebagai gerakan Islam di Indonesia telah memiliki kekhasan dalam dakwahnya.  Sebut saja kultur dakwah Muhammadiyah. Kultur dakwah Muhammadiyah adalah pembaharuan, pemurnian dan dakwah yang menggembirakan. Kultur dakwah Muhammadiyah inilah yang selalu dijaga oleh setiap warga Muhammadiyah dalam mewartakan semangat ber-Muhammadiyah.

Kultur Dakwah Muhammadiyah ini dibentuk dari ideologi Muhammadiyah yang sudah menghujam ke dalam relung-relung doktrin Muhammadiyah: Muqoddimah, Kepribadian, Khittah, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah adalah mercusuar yang menerangi jalannya dakwah Muhammadiyah. Kehadiran ribuan Amal Usaha Pendidikan, Ratusan Panti Asuhan, Ratusan Rumah Sakit dan Ratusan Amal Usaha Ekomoni Muhammadiyah juga bertujuan untuk kesuksesan dakwah Muhammmadiyah.

Jutaan Kader Muhammadiyah yang berdakwah di bumi Indonesia juga terikat kepada kultur dakwah Muhammadiyah. Kekhasan inilah yang menjadikan dakwah Muhammadiyah diterima oleh masyarakat Indonesia. Usia Muhammadiyah yang mencapai 106 M menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah menjunjukkan elan vitalnya sebagai organisasi dakwah yang mampu bertahan dengan ditopang oleh ideologinya yang cocok di bumi Indonesia.

Dakwah Muhammadiyah yang mengakar kuat ini juga dijalankan oleh komponen organisasi Muhammadiyah dan otonomnya. Salah satunya adalah KOKAM yang bernaung di bawah panji Pemuda Muhammadiyah. Keberadaan KOKAM yang hari ini masih eksis sebagai paramiliter Muhammmadiyah juga ditopang oleh kultur dakwah Muhammadiyah yang sudah mengakar dan diterima oleh masyarakat Indonesia. KOKAM sebagai kesatuan Muhammadiyah memang perlu dibahas secara khusus. Bagaimana paramiliter Muhammadiyah ini sebagai bagian dari alat dakwah Muhammadiyah dan tidak menimbulkan masalah dikemudian hari.

 

Kekhawatiran-Kekhawatiran

Kehadiran paramiliter yang menginduk di ormas besar seperti KOKAM dan BANSER menjadi bahasan yang menarik. Ahmad Najib Burhani dalam wawancaranya di islamberkemajuan.id berjudul “KOKAM dan Bangkitnya Milisi Islam” menjelaskan kekhawatiran munculnya tradisi Paramiliter di Muhammadiyah dan NU. Kekhawatiran ini sangat beralasan karena membahas paramiliter akan dihadapkan kepada referensi-referensi ilmiah tentang jihad, milisi sipil dan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh paramiliter kepada masyarakat sipil. Legitimasi agama dan kekuatan semi militer akan menumbuhkan otoritarianisme sipil di masyarakat.

Kehadiran paramiliter atau milisi sipil di Indonesia memang memiliki sejarah yang panjang. Kemerdekaan Indonesia pun menurut AH Nasution dalam bukunya yang sepuluh jilid berjudul Sekitar Perang Kemerdekaan Indonesia ditopang oleh paramiliter seperti Hizbullah, Sabilillah, Pesindo, Barisan Pemberontak Indonesia (BPI) dll. yang kemudian bertransformasi menjadi BKR, TKR dan TNI. Di kemudian hari kemunculan BANSER, KOKAM, Pemuda Pancasila tidak jauh dari kisah geger 1965.

Pasca 1965 paramiliter mulai tumbuh subur lewat Golkar. Pasca Reformasi barisan paramiliter lewat milisi Islam seperti Laskar Jihad, Front Pembela Islam ( FPI) juga milisi Islam di daerah-daerah tumbuh subur. Kekhawatiran paramiliter bertransformasi menjadi “gangster” dengan pengusaan wilayah dengan tujuan untuk akumulasi ekonomi menjadi penting untuk direnungkan.

 

Kokam Sebagai Subkultur

Dengan perkembangan yang signifikan terhadap paramiliter yang dimiliki NU dan Muhammadiyah ini, perlukah KOKAM (juga BANSER) dicemaskan? Tentu jawaban ini perlu diurai oleh penulis dalam beberapa point.

Pertama, selama 53 tahun sejarah KOKAM belum ada data yang menunjukkan KOKAM ikut serta dalam tindakan kekerasan yang tercatat dalam sejarah. Dalam peristiwa G30S, dimana KOKAM didirikan tidak ada catatan keterlibatan KOKAM yang berdarah-darah. KOKAM hadir untuk menjaga warga Muhammadiyah. Di masa Orde Baru dan Reformasi KOKAM tampil sebagai barisan yang mengamankan aset Muhammadiyah dan barisan kemanusiaan yang tampil disetiap bencana lewat baju KOKAM dan MDMC.

Kedua, kecemasan akan kehadiran paramiliter yang menggeser tugas Polisi dan Militer perlu diantisipasi dengan menekankan akar kultural keberadaan KOKAM. Sejarah panjang KOKAM yang gemilang dan tidak meninggalkan noktah sejarah yang buram. Akar kultural KOKAM adalah menjaga warga Muhammadiyah dan Bangsa. Adanya Baju Militer yang dikenakan adalah bentuk identitas kesejarahan, yang bisa berubah, sehingga bukan menjadi tujuan utama didirikan KOKAM.

Ketiga, Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Periode 2002-2006 pada masa Abdul Mu’ti pernah mengadakan Lokakarya KOKAM Nasional Kokam pada 9 April 2003 dengan tema “Optimalisasi Fungsi dan Peran KOKAM,” dalam Lokakarya tersebut visi KOKAM kedepan lebih pada berpartisipasi dalam bentuk belanegara atas dasar empati kemanusiaan dan kebangsaan. Ini adalah lokakarya termuktakhir dan terakhir yang membahas KOKAM secara serius. Maka Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Periode 2018-2022 dengan Ketua Umum Sunanto atau akrab dipanggil Cak Nanto perlu membuat Lokakarya  Nasional KOKAM sebagai bentuk penegasan jati diri KOKAM di masa Millenial. Perlu ada pembicaraan khusus yang membahas tentang KOKAM ke depan.

Keempat, akar kultural dan sejarah KOKAM sudah mengakar kuat di Muhammadiyah, sehingga ide delegitimasi KOKAM tidak relevan. Perkaderan di KOKAM adalah perkaderan yang efektif, sehingga menjadi penting di Muhammadiyah. Yang perlu kita lakukan adalah mengantisipasi kecemasan masuknya nilai-nilai paramiliter yang dikesankan arogan, suka kekerasan dan menjadi “gangster lokal” didalam KOKAM. Maka akar kultural KOKAM sebagai paramiliter yang humanis dan mengedepankan nilai kemanusiaan perlu ditekankan didalam anggota KOKAM.

Gus Dur pernah menulis “Pesantren Sebagai Subkultur” dimana pesantren memiliki nilai-nilai khas yang tidak dimiliki oleh masyarakat yang lain. Nilai yang khas ini tentu nilai yang baik, yang dapat menjadi role model dalam kebaikan. Kokam juga perlu memiliki nilai-nilai kekoman yang dapat menjadi suluh bagi anggota KOKAM. Nilai merawat persaudaraan, mengawal NKRI dan Pancasila dan menggembirakan kemanusiaan merupakan subkultul dalam diri KOKAM yang perlu dijaga dirawat oleh kita semua. (AK).

 

*)Ketua Pimpinan Wilayah Pemuda Muhammadiyah D.I. Yogyakarta dan penulis buku KOKAM: Kesatuan Muhammadiyah di Zaman Bergerak.

What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
4
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *