Islam Berkemajuan Perspektif Sejarah


93
242 shares, 93 points

I

Pada hari kedua, Halaqah Kebangsaan, Reinvensi Islam Berkemajuan, Konsepsi, Interpretasi, dan Aksi membahas tentang Islam Berkemajuan Perspektif Sejarah. Tiga pembicara mengurai perspektif sejarah mulai dari era klasik, pertengahan, hingga modern. Dalam kajian masa lampau awal awal pertama hijriyah diurai oleh Profesor Fuad Jabali, dosen UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Abad pertengahan dan jejaring ulama dibahas oleh Profesor Azyumardi Azra, dan pada era modern kajian Islam Berkemajuan mendapat catatan dari Ahmad Najib Burhani, Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).  Berikut laporannya.

Kemampuan Dakwah

Profesor Fuad Jabali mengawali perbincangan Islam Berkemajuan dengan membedah bagaimana kondisi Mekkah dan fase Rasulullah mendakwahkan Islam di sana. Bagi Profesor Fuad Jabali Mekkah adalah pusat keramaian. Pusat keramaian itu semakin kukuh saat ada ayat Tuhan yang menjadi keamanan penduduk di sana. Maka dari itu, orang berduyun-duyun dayang ke Mekkah dengan berbagai kepentingan.  Latar belakang yang berbeda inilah yang mendorong orang mempunyai kemampuan negosiasi dengan orang. Kemampuan negosiasi inilah modal sosial yang memungkinkan seseorang mempunyai posisi strategis di tengah “kerumunan orang”.

Catatan menarik dari Profesor Fuad Jabali adalah kemampuan dakwah Rasulullah. Rasul Muhammad setidaknya melakukan tiga hal dalam mendorong orang maju dan meninggalkan budaya jahiliyah. Pertama, lampaui berhala. Artinya, dakwah itu merasionalisasi berhala. Berhala yang jumlahnya banyak dan dapat dilihat kemudian direkonstruksi dengan  Tuhan yang satu, tidak bisa dilihat.  “Itu seperti petir di siang hari. Itulah yang membebaskan masyarakat arab dari ikatan material”, tegasnya.

Kedua, lampaui suku.  Nabi melakukan revolusi kesadaran kesukuan. Suku-suku yang bisa berperang dan bersaing akhirnya disatukan dalam ikatan iman. Ketiga, hubungkan dengan ketinggian dan keluasan. Nabi menghubungkan dengan ketinggian dan kekuasaan. Manusia sebelumnya disusun berdasarkan hirarki, berdasarkan kasta dan lapisan sosial. Semua kemudian digusur dengan cara-cara yang cerdik dan cerdas.

Keragaman bukan Keseragaman

Apa yang dilakukan Rasulullah itu adalah ciri kemajuan. Rasul melahirkan keragaman, bukan keseragaman. Anak kandung Islam adalah keragaman. Inilah tantangan Muhammadiyah sebagai organisasi tajdid. Muhammadiyah harus melahirkan keragaman yang diimpikan Nabi.

“Bagi saya berkemajuan adalah melakukan apa yang dilakukan Nabi: secara berketerusan mempertemukan kemanusiaan yang berbatas dengan nilai-nilai ketuhanan yang maha tidak terbatas dalam ruang dan waktu yang berbatasdemi kehidupan manusia yang lebih baik. Apa yang dilakukan KHA Dahlan bisa menginspirasi kita bagaimana bisa melakukannya dengan baik. Langkahnya untuk mengoreksi kiblat, yang sebelumnya digaris penguasa sesuai arah jalan, bukan sesuai arah kiblat yang sebenarnya, adalah sebuah keberanian melawan kesalahan yang sudah dilembagakan dan menjadi bagian dari kekuasaan”, tegas Profesor Fuad Jabali.

Apa yang dilakukan oleh Kiai Dahla itu memberikan gambaran betapa pentingnya mengoreksi kekuasaan dengan kekuatan ilmu dan membangun partisipasi publik yang terbuka untuk kebaikan bersama.Sekali lagi inti dari agama adalah kepedulian kepada sesama manusia atas dasar keesaan Tuhan. Inilah yang disebut Islam berkemajuan.

“Bagi saya berkemajuan adalah upaya berketerusan memperkuat keterhubungan antara nilai-nilai ketuhanan yang Esa (ilahiyah) di satu sisi dengan nilai-nilai kemanusiaan (insaniyah) di sisi lain dalam diri kita. Orang-orang berkemajuan, dengan demikian, adalah orang-orang yang berhasil mempertemukan kedua nilai tersebut sesuai dengan kemampuan dirinya, sesuai dengan perubahan ruang dan waktu. Orang yang berkemunduran adalah orang-orang yang memutus keterhubungan dengan kedua dunia ini. Sangat logis kalau silaturahmi menjadi tulang punggung agama”, tambahnya.

Dalam kerangka Islam Berkemajuan, Profesor Azyumardi Azra mengajak umat Islam untuk menghilangkan mentalitas pecundang. Muhammadiyah telah memelopori keberhasilan dan keberanian untuk keluar dari kungkungan itu. Mantan Rektor UIN Jakarta itu mengatakan bahwa sifat modernisme-reformisme itulah modal utama Muhammadiyah untuk tetap menjadi gerakan tajdid pengusung Islam Berkemajuan.

Islam Wasathiyah

Ahmad Najib Burhani mencatat meski istilah “Islam Berkemajuan” itu sudah dipakai ketika zaman awal Muhammadiyah, namun sepertinya kata-kata tersebut tidak mengacu kepada identitas tertentu.Berkemajuan memang mengacu kepada visi dan cara berpikir ke depan. Namun ia tidak menjadi istilah khusus yang menjadi simbol atau slogan atau jargon tertentu di Muhammadiyah. Hal ini bisa dilihat dari kenyataan bahwa setelah masa-masa KH. Ahmad Dahlan, istilah itu jarang sekali dipakai dalam berbagai literatur Muhammadiyah dengan makna khusus.

Lebih lanjut, wakil Ketua Majelis Pustaka Informasi itu menegaskan bahwa misi Islam sebagai agama yang rahmatan lil ’alamin itu tidak akan mungkin terwujud jika umat Islam tidak berkemajuan, jika umat ini tertinggal, lemah, dan tidak maju. Bersikap moderat saja tidaklah cukup untuk berkompetisi di dunia sekarang ini.Selain sikap moderat, umat harus juga berkemajuan,“agar mampu berkompetisi dengan umat dan bangsa-bangsa lain dalam percaturan dunia baru di abad modern yang sangat dinamis dan kompleks. Islam tengahan (wasathiyah, moderat) yang berwajah lembut, damai, teduh, toleran, dan harmoni berintegrasi dengan Islam berkemajuan yang menampilkan kesadaran rasionalitas, objektivitas, ilmu pengetahuan, teknologi, kerja keras, disiplin, mandiri, profesionalitas, dan nilai-nilai kemajuan lainnya sehingga umat yang mayoritas ini hadir sebagai kekuatan unggul”.

Dalam bidang sosial dan budaya, Islam berkemajuan itu diterjemahkan dalam pemahaman bahwa dakwah yang perlu dilakukan pada masa sekarang adalah model dakwah pencerahan berbasis komunitas, perlunya pelayanan terhadap kelompok difable dan minoritas, peningkatan tradisi ilmiah, dan dialog Sunni-Syiah dalam mengatasi konflik di Indonesia.

Dalam rekomendasi nomor satu yang berkaitan dengan “Keberagamaan yang Moderat”, Muhammadiyah menganjurkan warganya untuk ikut serta membendung perkembangan kelompok takfiri, yakni mereka yang dengan mudah menuduh orang lain sebagai kafir hanya karena perbedaan pandangan dan sikap.

Dalam rekomendasi itu, sikap takfiri dipandang sebagai penolakan terhadap kemajemukan dan menunjukkan keangkuhan dalam beragama.Dalam kaitannya dengan konflik Sunni-Syiah, Muhammadiyah merekomendasikan agar warga gerakan ini dan umat Islam Indonesia tak terbawa dalam pertentangan politik di Timur Tengah yang memperhadapkan antara Sunni dan Syiah.

Sebagai kelanjutan Muktamar, Muhammadiyah akan menyusun Fikih Khilaf yang mendialogkan berbagai perbedaan dalam Islam, termasuk Sunni-Syiah. Muhammadiyah diharapkan menjadi pilar dari kebinekaan Indonesia dan menangkis tuduhan bahwa mereka telah dikuasai oleh kelompok yang anti-kemajemukan.

Reporter: Benni Setiawan

Editor: Azaki Khoirudin


Like it? Share with your friends!

93
242 shares, 93 points

What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
1
win
Islam Berkemajuan
Kami berharap islamberkemajuan.id dapat menjadi jurnalisme baru yang menjadi media alternatif bagi masyarakat milenial. Kami berkomitmen untuk mempromosikan wacana Islam Indonesia atas dasar nilai-nilai transendensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *