Habiskan Makanan, Hargai Pemberian Tuhan


100
31 shares, 100 points
Ilustrasi. Sumber : Open Computing Facility - UC Berkeley

Oleh: Aditya Pratama*

“Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan sikap sombong.”

Konon, kata-kata di atas terlontar dari lisan Muhammad pada abad VII, dan selama berabad-abad dianggap sebagai hadis sahih oleh umat Islam, yang berkenaan dengan kegiatan yang kita sebut makan. Makan memang merupakan bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia, dan merupakan salah satu kegiatan yang paling alamiah. Meski secara sekilas makan nampak sebagai kegiatan biologis belaka, sebetulnya Islam mengajarkan bahwa makan adalah kegiatan yang multiaspek. Karena dengan makan manusia tidak hanya dapat mendapatkan energi (aspek biologis) yang memungkinkannya untuk beraktivitas dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi dirinya sendiri maupun orang lain (habluminannaas), melainkan juga beribadah dan memuliakan penciptanya (habluminallah).

Begitu hebatnya peran makanan, sampai-sampai filosof Rusia, Peter Kropotkin, membahas pentingnya makanan dalam kemunculan dan berjalannya revolusi sosial, dalam satu bab tersendiri dalam The Conquest of Bread and Other Writings (1995:52–74). Itu dibuktikan dengan banyaknya rumusan dalam ajaran Islam yang menggariskan adab dan etika berkenaan dengan makan, mulai dari pembudidayaan dan pengelolaan sumber makanan, hingga pemasakan dan konsumsi makanan (tentu saja, salah satu buktinya adalah hadis yang dikutip di atas). Maka tak heran bila proses yang mendahului dan menyudahi makan kerap diwarnai dengan “penyakralan”, yang salah satunya ditandai oleh diiringi oleh berbagai ritual ataupun doa kepada Sang Pencipta.

Sebetulnya, dalam catatan sejarah kita dapat menemukan bahwa sejak berabad-abad yang lampau makanan sudah menjadi barang yang amat berharga, khususnya sebagai komoditas. Karenanya, berbagai bangsa siap berjibaku untuk berdagang, memonopoli, bahkan jika perlu menjajah negeri asing sembari memperbudak dan membantai penduduknya demi mendapat bahan makanan yang berharga. Sampai-sampai, dalam bukunya Food in World History Jeffrey Pilcher mencatat adanya peristiwa perang rempah (2006:29–32). Di sini, Nusantara pernah menjadi korban dari perburuan bahan makanan yang digalang bangsa-bangsa rakus dari belahan dunia lain. Dari fakta sejarah, juga jelas terlihat bahwa, sejak dulu, demi mendapatkan bahan makanan manusia sudah bersedia untuk menomorentahkan Tuhan serta menanggalkan adab dan etika.

Kisah pilu tentang makanan pun berlanjut, lantaran kehidupan modern rasa-rasanya juga sama saja, dan itu berkat berbagai revolusi mindset dan gaya hidup yang mewabah di zaman modern ini yang pada gilirannya memengaruhi bagaimana manusia memandang makanan. Itu salah satunya berujung pada sekularisasi makan. Barangkali, disenchantment of the world-nya Max Weber (dalam Gerth dan Mills [peny.], From Max Weber: Essays in Sociology [1946]:282) dapat pula menggambarkan fenomena makan, sekaligus menjadi salah satu simbol sekularisasi makan dalam kehidupan manusia modern.

Hal yang demikian, semakin nampak jelas jika kita menonton berbagai acara televisi populer Barat, banyak pula yang menganggap makanan sebagai seni yang sifatnya lebih profan, sehingga ketika makanan itu tak bernilai seni yang sempurna, maka akan dibuang begitu saja. Ada pula makanan yang diciptakan semegah dan semewah mungkin, dilapisi emas misalnya, hanya untuk memenuhi kebutuhan tersier atau sekunder dan nafsu konsumen kelas atas, entah makanan itu akhirnya dimakan sampai habis atau hanya membusuk dan dibuang. Lebih parah lagi, terkadang ada juga makanan yang sampai disebut dan disamakan dengan ungkapan tak hormat, feses misalnya, hanya karena ia tampak tak sempurna dan tak enak dikecap lidah.

Malang sekali nasib mereka. Padahal, hampir dua milenia yang lalu Rasulullah pernah berpesan agar manusia tidak menghina makanan. Belum lagi, di belahan dunia lain masih banyak manusia yang menderita akibat kekurangan makanan atau malnutrisi berkat buruknya keadaan yang dihadiahkan penguasa dan perangnya, atau kaum miskin kota yang terpaksa mengais sampah dan daging busuk lalu mengolahnya menjadi makanan pokok mereka, seperti makanan pagpag di Filipina dan makanan pokok rakyat Venezuela di kala krisis yang mencuat belakangan ini.

Fenomena semacam itu (perlakuan tidak hormat kepada makanan dalam masyarakat modern) dipertegas pula oleh temuan Prof. Djamaluddin Ancok di kebudayaan Barat (dalam kasus itu masyarakat Amerika). Di sana orang cenderung menganggap makanan sebagai materi biologis semata, yang nilainya hanya diukur dengan jangka finansial. Jika sudah kenyang, entah makanan tersebut masih banyak atau tidak, dibuang saja. Sehingga, kemubaziran adalah hal yang jamak dijumpai dalam kebudayaan semacam itu (Ancok dalam Zawimah dan Nasruddin [peny.], Masalah Kependudukan dan Lingkungan Hidup: Di mana Visi Islam? [1990]).

Temuan Ancok lebih dari dua dekade lalu itu dipertegas kembali oleh Harald Welzer dalam tulisannya “The Western Culture of Wate: We Should be Ourtaged at Ourself” (Spiegel, 14/7/2011). Berdasarkan pengamatannya, ditemukan bahwa sekitar 40% makanan di Benua Amerika dan 30% makanan di Benua Eropa dibuang sebelum mereka mendarat di lidah manusia. Alhasil, Food and Agriculture Organisation of United Nations mencatat bahwa 1/3 makanan (yaitu 1,3 milyar ton) yang diproduksi oleh manusia per tahunnya secara global terbuang sia-sia. Atau, dalam scope yang lebih kecil, 263 juta ton daging hewan terbuang atau sengaja dibuang oleh manusia (Global Food Loses and Food Waste, [2011]:v).

Berdasarkan data FAO, kita bisa tahu bahwa kemubaziran itu memang banyak bergentayangan di muka bumi, yang paling mencolok adalah di Eropa Amerika Utara, negara-negara industrialis Asia (utamanya Tiongkok dan India), dan Amerika Latin (http://www.fao.org/save-food/resources/keyfindings/en/). Paus Fransiskus XXVI menyamakan pemubaziran ini dengan “pencurian [makanan] dari meja si miskin,” (Josephine McKenna, “Pope Francis says wasting food is like stealing from the poor,” The Telegraph, 5/6/2013), sedangkan beberapa abad sebelumnya Muhammad menganggap orang yang kenyang sementara tetangganya lapar bukanlah seorang mukmin (Al-Bukhari, Al-Adab Al-Mufrad, “Tetangga” no. 112).

Barangkali, itu akibat masifnya industri makanan di berbagai kapitalis yang bersemayam di Dunia Barat (maupun Timur, khususnya seabad belakangan). Industrialisasi semacam itu membuat manusia rawan lupa akan Pencipta makanan itu, bagaimana makanan itu diciptakan, berapa milyar liter darah hewan yang mengalir, berapa miliar kilogram tanaman yang harus tercerabut dari tanahnya dan kemudian meregang nyawa, atau berapa juta karbon yang disumbangkan industri semacam itu setiap tahunnya—melalui pembakaran minyak bumi, gas bumi, dan energi lainnya—kepada bumi hanya untuk memenuhi nafsu industri makanan dan nafsu berbelanja manusia.

Tak pelak, industrialisasi semacam itu dibarengi dengan moronisasi, jebakan, dan promosi rasa frustasi, sebagaimana disebutkan Herbert Marcuse dalam One Dimensional Man  (2002:246). Industrialisasi semacam itu sejatinya tak hanya merusak bumi, melainkan juga merusak manusia, pengaruh agama dan mendongkrak hedonisme, demikian tandas Mike Eatherstone dalam bukunya, Consumer Culture and Postmodernism (2007:82). Industri semacam itu jelas membuat manusia menjadi bagian dari masyarakat yang berlebih-lebihan.

Tetapi, anehnya, masyarakat modern, termasuk di antaranya adalah umat yang beragama (atau setidaknya mengaku beragama), nampaknya justru senang merayakan eksploitasi semacam itu. Itu, salah satunya, dapat dibuktikan dengan larisnya berbagai gerai makanan milik monster kapitalisme lokal maupun global yang buka 24 jam. Restoran 24 jam tentunya sama dengan eksploitasi alam dan makanan nonstop seharian! Faktanya, sebagaimana diungkap International Energy Agency (World Energy Outlook 2016: executive summary [2016]), per 2014 Indonesia saja sudah berhasil mengeluarkan emisi berupa karbon dioksida yang jumlahnya setidaknya mencapai 436 juta, yang mayoritasnya disumbangkan oleh sektor industri (termasuk industri makanan tentunya), lalu disusul oleh transportasi, dan sektor lain. Itu saja belum termasuk makanan yang dikelola di luar sektor industri, misalnya makanan rumahan.

Jika dijumlah, tentu emisi yang dihasilkan oleh anak negeri hanya untuk urusan perut—baik itu yang primer maupun sekadar sekunder atau tersier—akan membengkak. Singkatnya, untuk perkara makan, manusia saja sudah turut andil dalam merusak alam. Mengapa? Itu karena tanah yang digunakan untuk menanam tanaman pangan saja sudah mengandung karbon dioksida, belum lagi padi—makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia—yang mengandung metana, yang daya rusaknya terhadap atmosfer lebih besar ketimbang karbon dioksida. Selain itu, metana juga terkandung dalam berbagai hewan ternak berikut kotoran dan bangkainya.

Lalu, perlu juga kita pertimbangkan berapa juta korban berupa manusia dan sumber daya alam yang dihasilkan oleh eksploitasi bahan makanan yang digalang oleh merkantilisme dan kapitalisme, mulai dari yang arkaik hingga yang (pasca) modern. Lebih menarik lagi, kita perlu pula mengingat keberadaan jutaan ton sampah anorganik yang dihasilkan dari eksploitasi semacam itu dan mengalir ke laut lalu dimakan dan meracuni hewan laut (dan tentunya juga hewan lainnya) yang jelas-jelas bukan koruptor, pendusta, penindas, apalagi penista. Mereka adalah korban tak bersalah dari pelbagai aksi milyaran manusia dekoratif, yang teralienasi dari nuraninya, rasa kemanusiaannnya, hayat lingkungannya, dan Tuhannya.

Dengan demikian, seyogianya kita tidak boleh lupa bahwa, sama halnya dengan makanan, bumi memiliki umur tersendiri dan kesuburannya pun terbatas. Bahkan beberapa ilmuwan sampai menyatakan bahwa pada 2027 manusia sedunia akan mulai merasakan pahitnya kelaparan, dan pada 2040 eksistensi umat manusia—yang diperkirakan jumlahnya akan melebihi 8 miliar itu—akan mencapai titik nadir akibat kekurangan makanan (Louis Doré, “Society will collapse by 2040 due to catastrophic food shortages, says study,” Independent, 22/6/2015).

Jika kita pikir lebih mendalam, pada titik itu katastropi Malthus bisa saja menjadi kenyataan, yaitu ketika jumlah manusia bertumbuh melampaui kemampuan mereka dalam menghasilkan makanan. Krisis pangan seperti itu dapat pula memantik katastorpi yang lain, yaitu kemanusiaan dan keagamaan, seperti yang pernah diramalkan salah satunya oleh Muhammadiyah dalam Berita Resmi Muhammadiyah (2015: 247–248). Dalam cara yang lebih ekstrem, film Hollywood kenamaan, Interstellar, menawarkan alternatif masa depan umat manusia. Di situ diceritakan bahwa, di masa depan, hanya untuk makan saja manusia harus mengungsi ke luar bumi lantaran planet itu sudah terlalu rusak untuk dapat ditanami tanaman pangan.

Akhirnya, mumpung nurani dan akal kita masih dapat berfungsi dengan baik, janganlah kita terjembab dalam syahwat sehingga lupa menghargai makanan. Menghargai makanan tentunya adalah dengan membuat perencanaan yang baik dalam berbelanja, mengolah dan mengonsumsinya dengan bijak, dan memanfaatkan energi yang dihasilkan oleh makanan itu dengan tepat sehingga berguna bagi diri kita sendiri dan orang lain, baik di dunia maupun akhirat kelak. Karena sejatinya kemubaziran dalam makan dapat mengindikasikan perilaku berlebihan, sedangkan Tuhan tentu tidak menyukai orang yang berlebihan. Tentu saja, solusi sederhana yang paling beradab sekaligus religius untuk menghargai makanan, alam, dan Penciptanya, adalah dengan menghabiskan makanan kita.

Wallahu a’lam.

*) Peminat kajian humaniora dan Muhammadiyah


Like it? Share with your friends!

100
31 shares, 100 points

What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
0
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win
Islam Berkemajuan
Kami berharap islamberkemajuan.id dapat menjadi jurnalisme baru yang menjadi media alternatif bagi masyarakat milenial. Kami berkomitmen untuk mempromosikan wacana Islam Indonesia atas dasar nilai-nilai transendensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *