Fauzan Anwar Sandiah : Apakah Muslim Milenial Menuju Konservatisme?


124
1 share, 124 points

[islamberkemajuan.id]  Belum lama ini, ada tiga studi tentang kaum muda Muslim yang dilakukan oleh sejumlah peneliti dari UIN Sunan Kalijaga, UIN Syarif Hidayatullah, dan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS). Ini adalah sebuah upaya untuk memetakan bagaimana kondisi kaum muda Muslim di Indonesia. Sejumlah kota disambangi para peneliti. Mereka mewawancarai, mengobservasi, dan melakukan penelitian dokumentasi. Hasilnya, UIN Sunan Kalijaga merilis tentang konsumsi literatur keislaman yang digandrungi oleh kaum muda Muslim. UMS merilis tentang dampak penggunaan internet terhadap identitas kaum muda Muslim. Sedangkan UIN Syarif Hidayatullah menelusuri bagaimana paham radikalisme berkembang pesat di pusat-pusat kegiatan keagamaan kaum muda.

Apakah kaum muda muda Muslim bergerak menuju konservatisme? Ini adalah sebuah pertanyaan utama yang hendak dijawab. Pasca keruntuhan rezim Soeharto dua puluh tahun lalu, gerakan-gerakan Islam transnasional memiliki kesempatan untuk menikmati iklim “kebebasan berekspresi.” Kesempatan ini tidak saja positif bagi gerakan transnasional seperti Hizbut Tahrir, tapi juga bagi gerakan Muslim progresif-liberal seperti JIL, massa paramiliter seperti FPI, serta mekarnya gelombang Islamisme pop yang merambahi majalah, keping CD, dan novel-novel Islami.

Kehidupan kaum muda Muslim setidaknya ditentukan oleh banyak perkembangan yang meluas. Dari segi akses pendidikan, mereka dapat bersekolah atau menjadi mahasiswa perguruan tinggi negeri atau swasta. Beberapa dari mereka juga lebih leluasa untuk mengembangkan komunitas, kewirausahaan, dan menjadi sasaran pasar makanan dan bisnis rekreasi yang potensial. Di kota-kota luar Jawa, persoalan identitas mereka juga sebagiannya masih dibentuk oleh TV, aplikasi wicara (Whatsapp), dan media sosial (Facebook, Instagram, dan Twitter). Internet dan cepatnya pertumbuhan industri alat-alat komunikasi telah mengubah banyak aspek dalam kehidupan manusia modern. Meski begitu, pertarungan ideologi tetap saja hadir melalui fatwa-fatwa, website, dan konflik-konflik lokal.

Noorhaidi Hasan, Profesor Ilmu Politik Islam Universitas Sunan Kalijaga dalam salah satu presentasi penelitian tentang konsumsi literatur generasi milenial Muslim menjelaskan bahwa tren keislaman kaum muda sesungguhnya tengah berjalan kondusif. “Sebenarnya, perkembangan generasi muda Muslim itu positif. Hanya saja, seberapa mampu mereka menghadapi dampak-dampak ekonomi-politik. Ada prediksi, mereka cukup menjanjikan bagi perkembangan demokrasi di Indonesia, selama pertarungan elit politik tidak menyeret mereka ke dalam arus konservatisme,” jelas Noorhaidi.

Berbeda dengan beberapa negara yang memang mengalami rezim politik Islam seperti Iran, Mesir atau Turki, kaum muda Muslim di Indonesia justru tidak pernah mengalami nuansa pemerintahan Islam. Kaum muda Muslim yang lahir pada tahun 90-an justru merasakan dampak kebangkitan Islam dengan tumbuhnya bisnis Perbankan Islam, kehadiran ICMI, dan tampilnya PKS, PAN, dan PKB sebagai partai politik Islam. Mereka hidup begitu saja dalam iklim yang disebut sebagai ruang publik keagamaan. Dampak paling nyata adalah kebebasan baru yang dinikmati oleh remaja-remaja perempuan Muslim di kota-kota besar. Mereka mulai mendapat dukungan untuk menaiki tangga karir di bidang intelektual, kemasyarakatan, dan keagamaan. Selebriti perempuan, musisi perempuan, hingga aktivis kampus tidak segan-segan menampakkan identitasnya sebagai seorang Muslimah.

Generasi #BelaIslam?

Setidaknya, ada dua isu penting yang menyelubungi wacana keagamaan kaum muda Muslim. Pertama, tentu saja adalah diskusi tentang pentingnya penerapan keseharian aspek-aspek hukum Islam klasik secara menyuluruh, termasuk dalam posisi sentral ulama sebagai pemimpin negara. Wacana yang pertama ini kerap disebut wacana khilafah atau wacana salafi, mengacu pada masa-masa kegemilangan generasi pertama Islam. Kedua, terkait dengan wacana keagamaan. Pada tahun 2016, gelombang massa menuntut pemenjaraan Gubernur Jakarta Basuki Tjahja Purnama atau akrab disapa Ahok karena dianggap melakukan “penistaan agama.”

Baik Haedar Nashir dan Said Agil Siradj, selaku pimpinan organisasi Islam Muhammadiyah dan Nadhlatul Ulama, menyerukan anggotanya untuk tidak terlibat dalam aksi. Tapi fakta berkata lain. Sejumlah kaum muda dari masing-masing organisasi justru menganggap bahwa aksi massa tersebut merupakan sebuah perjuangan membela Islam. Hingga tahun 2017, media sosial Facebook ramai oleh kampanye hastag #BelaIslam.

Seorang partisipan muda Gerakan 212 (begitu aksi massa tersebut menyebut gerakannya), mahasiswa pascasarjana perguruan tinggi Islam Negeri, mengatakan bahwa Al-Qur’an telah dilecehkan oleh Ahok. Perkataan Ahok bahwa “jangan mau dibodohin pake ayat Al-Qur’an” menurutnya keliru dan sangat lumrah jika dianggap menista agama. “Bagaimanapun Al-Quran itu kitab suci, sebagai orang Islam saya merasa punya kewajiban ikut membela agama saya,” terangnya.

Ini adalah ekspresi yang sangat sederhana tentang dasar motif keterlibatannya sebagai peserta aksi massa di Jakarta dua tahun lalu itu. Pernyataan ini menjadi penting karena ekspresi politik identitas kaum muda Muslim muncul oleh kebutuhan untuk menegaskan martabat sosial sebagai seorang Muslim menemukan titiknya justru dalam aktivitas solidaritas yang sebelumnya tidak pernah mereka alami.

Mengubah Otoritas Keagamaan

Satu hal yang menghubungkan antara riset terbaru mengenai aspek literasi kaum muda Muslim dan fenomena-fenomena wacana keagamaan di media sosial, koran, dan talkshow TV, bahkan khutbah Jum’at adalah pergeseran referensi. Kaum muda Muslim pada umumnya mengkonsumsi wacana keagamaan seiring dengan alat-alat komunikasi yang memberi jalan mudah bagi beragam berita, unggahan pernyataan Facebook tokoh populer, bahkan pernyataan-pernyataan agresif.

Fenomena meluasnya referensi kaum muda untuk terlibat dalam diskus-diskusi keislaman merupakan bagi dari fenomena bergesernya otoritas keagamaan. Guru agama, pemimpin pondok pesantren, dan tokoh agama tidak lagi sendirian sebagai referensi keagamaan. Di media sosial ada banyak sosok baru yang telah mendampingi perkembangan wacana keagamaan kaum muda Muslim. Para Ustadz Gaul yang lebih fresh dan update dengan aktivitas kelompok milenial ini sangat cocok dengan iklim konsumsi media. Wacana keagamaan adalah komoditas isu yang menyebar di perangkat-perangkat modern kaum muda. Mereka melihat, membaca, dan membagikannya kepada rekan sebaya.

Meluasnya referensi keagamaan kaum muda Muslim tidak lantas membuat mereka akrab dengan perkembangan diskusi keagamaan kontemporer, bahkan yang mengarah ke moderat. Hal ini disebabkan oleh reproduksi wacana keagamaan yang mulai lesu pada tahun 2007 dengan gagalnya partai-partai politik Islam dalam pemilu tahun 2004 dan 2009. Isu Perda Syariat juga perlahan tenggelam karena dianggap sebagai pengalihan isu atas kasus-kasus korupsi. Robin Bush, dalam artikel, “Regional Sharia Regulations in Indonesia” (terbit tahun 2008) mengungkapkan sejumlah kasus korupsi daerah-daerah yang gencar merilis kebijakan Perda Syariat. (Rev: Abu Aksa)


What's Your Reaction?

confused confused
0
confused
hate hate
0
hate
bingung bingung
0
bingung
fail fail
0
fail
fun fun
0
fun
geeky geeky
0
geeky
love love
1
love
lol lol
0
lol
omg omg
0
omg
win win
0
win

0 Comments

Your email address will not be published. Required fields are marked *